Group's posts with tag: 100tahun buya hamka

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag 100tahun buya hamka
Blog Entry100 Tahun Buya HAMKAApr 11, '08 10:05 PM
by *Nchie for everyone
Assalamu’alaikum wr. wb.

Saudara-saudara Nchie yang disayang oleh Allah Ta’ala...

 

        Berikut ini aku salinkan sebuah tulisan yang berasal dari majalah Gatra No.21 Tahun XIV # 09 April 2008, yang menceritakan tentang seorang tokoh Ulama asal Minangkabau, dan beliau yang dimasudkan itu adalah yang tersayang BUYA HAMKA.

 

Adapun kaitannya mengapa nama Buya Hamka kembali di angkat, yaitu lantaran mengenang ”ulang tahunnya” yang ke-100, disamping memperkenalkan kembali sosok beliau kepada generasi muda yang sepertinya kurang mengetahui eksistensi beliau.

 

Namun sayangnya (ini hanya keluhan aku semata), mengapa tokoh seperti A. Syafii Maarif yang dimunculkan oleh pihak majalah Gatra untuk turut mengomentari Buya Hamka. Apakah lantaran dia orang Minang, atau karena dia mantan orang Muhammadiyah...??? Yang jelas apapun itu aku merasa keberatan jika orang yang mengaku dirinya muslim seperti Syafii Maarif, namun kenyataannya dia sepaham dengan ajaran orang2 JIL, dan lantaran itu pula dia DIKELUARKAN dari Muhammadiyah.

 

Maka menurut Nchie ayat Allah Ta’ala berikut ini mungkin cocok untuk mengidentifikasi siapa dirinya (Syafii Maarif), waLlahu’alam...

Kalau yang kamu serukan kepada mereka itu keuntungan yang mudah diperoleh dan perjalanan yang tidak seberapa jauh, pastilah mereka mengikutimu, tetapi tempat yang dituju itu amat jauh terasa oleh mereka. Mereka akan bersumpah dengan (nama) Allah: "Jikalau kami sanggup tentulah kami berangkat bersama-samamu." Mereka membinasakan diri mereka sendiri[644] dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya mereka benar-benar orang-orang yang berdusta.” (QS. 9 : 42).


Wassalamu'alaikum wr. wb.

NchiedIVe,---


                     BUYA HAMKA

                   Novelis – Ulama yang Melegenda

 

Nama besar Buya Hamka hampir meredup ditelan masa.Kini,bertepatan dengan 100 tahun hari kelahirannya,muncul upaya untuk mengenang kembali nama besarnya. Warna – warni kehidupannya dijalaninya dengan keberanian dan keikhlasan.Inilah riwayat Buya Hamka,seorang tokoh besar Indonesia yang terlupakan.Seorang Ulama besar negeri ini yang juga dijunjung tinggi di Malaysia.

 

     Kalaulah hayat masih dikandung badannya,kini 100 tahun sudah usia Buya Hamka.Tapi tuhan memanggilnya ketika ia berusia 73 tahun lebih pada 24 juli 1981.Sejak itu,suaranya yang terdengar serak-serak basah,berirama mendayu,dan dengan pilihan kata yang indah membawakan dakwah tidak pernah lagi terdengar dalam siaran kuliah subuh di radio

 

     Selama 27 tahun,wajahnya juga  tk pernah lagi menghiasi layer televise memberi ceramah ISLAM.Selama itu pula namanya kian meredup,Hampir2-hampir tak dikenal lagi oleh generasi muda islam yang tumbuh sekarang.Buya Hamka,begitulah banyak orang dulu menyebu nama lelaki gaek bernama Haji Abdul Malik Karim Amrullah itu.

 

     Namanya yang kian meredup itu kini tiba-tiba muncul kembali ke permukaan.Setidaknya,setelah para kader muda di lembaga pendidikan yang dirintisnya dulu,Yayasan pesantren ISLAM Al-Azhar,menggelar rangkaian acara simultan untuk mengembalikan ingatan kita pada ulama besar Indonesia ini.

 

     Agendanya,dari tabligh akbar,seminar,festifal budaya,pemutaran film documenter,Hingga peluncuran buku 100 Tahun Buya Hamka.,Situs internet www.buyahamka.com dan perpustakaan Buya Hamka. Begitu pula pusat kajian Buya Hamka di univ hamka,Jakarta,yang menggelar seminar yang menghadirkan sejumlah tokoh dan cendikiawan pada Februari silam.

 

     Malah,pada pekan kedua april ini,seminar internasional yang juga membedah pemikiran Buya Hamka bakal digelar  di Jakarta.Penyelenggaranya lembaga berjuluk Baitul Muslimin Indonesia.”Saya mendapat kabar,Anwar Ibrahim di harapkan dapat hadir menjadi keymote speaker dalam seminar ini,” kata A.Syafii Maarif,mantan pengurus pusat Muhammadiyah yang akan menjadi pmbicara dalam seminar itu.Perlu dicatat,mantan wakil perdana menteri malaysia itu pengagum Buya Hamka,---

 

Perbendaharaan yang luas

 

 Syafii menyatakan,ia gembira sekali melihat beragam acara dan seminar yang digelar untuk memperingatai 100 tahun Buya hamka itu.Sebab,Ia menilai,sudah sepantasnya tokoh sebesar Hamka mendapat penghargaan tertinggi dari anak bangsa ini di tengah situasi seperti sekarang,Ketika generasi muda Islam tak banyak yang mengenal sosok Hamka.Juga ditengah suasana banyak warga negeri inio tidak lagi memberi penghargaan yang layak kepada tokoh-tokoh besar bangsa ini.

 

     Sebab, Syafii melihat,Hamka bukan hanya ulama besar dalam makna tradisional dengan penguasaan kitab-kitab kuning klasik dan modern:Dari tafsir,tasawuf,Fiqih,hingga ilmu kalam.Lebih dari itu,Penguasaannya pun meluas sampai bidang filsafat,sastra,sejarah,etika,hingga adap –Khususnya adapt Minang kabau.”Dengan semua penguasaan itu,Buya Hamka meninggalkan warisan karya monumental Tafsir Al-Azhar, yang menyuluhi hati dan pikiran jutaan manusia dalam rentang waktu yang panjang sampai ke masa depan,” Katanya,---

 

Boleh jadi, dengan pernyataan itu,Syafii hendak mengingatkan kembali.Di masa silam, Ada tokoh-tokoh Indonesia yang tidak mengakuii keistimewaan dan ke besaran Buya Hamka.Mereka menilai sebagai Ulama,Hamka toh tak lebih besar dari gurunya sendiri:Abdul Karim Amrullah,ayahnya,dan A.R Sutan Mansyur,Kakak iparnya.Juga tak lebih istimewa dibanding dengan banyak ulama lainnya,seperti KH M.Hasyim Asj’ari,Tengku Hasbi Ash-Shiddiqiy,atau KH M.Nawawi Tanara.

 

     Dari sisi lain,Meraka juga tak melihat keistimewaan Hamka di lapangan sastra yang digelutinya sejak masa belia.Demikian pula,mereka mamandang tak ada kelebihan dari sang Buya di bidang-bidang lain,seperti sejarah,filsafat,dan terutama kedalaman ilmu Islamnya,dibandingkan dengan tokoh-tokoh lain di tiap bidang tersebut.”Mereka itu keliru,sangat keliru,Menilai Buya secara sepotong-sepotong. Ketokohan dan kebesaran Hamka mesti di lihat ecara integral,”ujar Syafii.

 

     Syafii melihat,ada hal-hal yang membedakan Hamka dari ulama-ulama lainnya,dari sastrawan lain,dan tokoh-tokoh besar Indonesia umumnya.Kualitas ulama, Pengarang,pemikir,dan sastrawan begitu kental menyatu alam pribadi Buya.”Dalam kualitas itu,banyak yang mengakui, masalah-masalah pelik ditangan Buya menjadi cair,lancer,dan mudah di pahami. Bahasanya sangat komunikatif,tidak rumit,sekalipun berkaitan dengan masalah pelik keagamanan,” ujar Syafii lagi.

 

     Syafii menyatakan itu tentu bukan semata karena Buya Hamka pernah menjadi tohoh Muhammadiyah.Tapi fakta – fakta yang ada jelas menempatkan ulama yang ucapannya itu selalu menyejukan itu tokoh besar dan bukan sekadar populis,Di malaysia,misalnya,hamka tidak hanya mendapat gelar doctor kehormatan dari Univ kebanggan Malaysia pada 1974—disampin gelar serupa yang diberikan Univ Al-azhar,Mesir,Jauh sebelumnya,yakni pada 1958.

 

     Sosok Buya Hamka di negeri jiran itu nyata-nyata diakui sebagai ulama besar yang juga sangat popular.Pemikioran serta buku-bukunya bahkan menjadi rujukan Di sekolah-sekolah dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi.Seperti pernah di ungkapkan Mohd.Shukri Mohd.Ariff dari dewan bahasa dan pustaka Malaysia ketika berkunjung ke Gatra,Buku-buku karya Hamka menjadi referensi pelajar dan mahasiswa.”banyak juga yang sudah diterjemahkan dan terbit dalam bahasa Malaysia,” katanya dalam sebuah perbincangan.

 

     Syafii amay menyayangkan, sepertinya bangsa ini tidak tahu menghargai orang-orang yang berilmu. Buakn hanya Buya Hamka, banyak tokoh lain pun yang tak mendapat penghargaan yang layak di negeri ini,seperti soedjatmoko atau pelukis Affandi yang juga leih dihargai bangsa lain.”Bangsa ini tampaknya tengah berada dalam kultur yang kumuh.Beruntunglah W.S Rendra belum lama ini mendapat penghargaan yang layak dari Univ. Gadjah Mada.

Saya sangat memujikan itu,” Kata Syafii lagi.

 

     Agak berbeda dibandingkan dengan Syafii,Rusydi Hamka melihat adanya factor lain mengapa Hamka seperti kurang dihargai di negeri sendiri.Menurut anak kedua Buya ini,Faktor politiklah yang paling mewarnai mengapa tak ada lembag pendidikan di Indonesia bersikap seperti di Malaysia.” Di zaman Bung Karno,jelas sekali ada tekanan politik untuk mengabaikan Buya. Di zaman Pak Harto,Suasananya lain lagi,seperti tak ada yang perduli,” kata Rusydi,---

 

Digempur Habis Oleh Lekra

 

     Rusydipun menuturkan,terutama di masa-masa Bung Karno menancapkan demokrasi terpimpin Nasakom, tekanan itu cukup terasa. Terutama karena penaruh kuat Partai Komunis Indonesia (PKI) pada masa-masa menjelang pecahnya G-30-S/PKI.

 

     Buya menjadi salah seorang dari kelompok sastrawan yang non komunis yang di gempir habis, baik karya-karyanya sampai pada usaha pembunuhan karakter.”Selama setahun penuh pada waktu itu, Buya di serang habis Oleh Koran-koran yang berhaluan Komunis, Seperti harian rakjat dan bintang Timur,” Ujar Rusydi.

 

     Hal serupa di ungkapkan Taufiq Ismail. Menurut Tufiq, Buya ikut manjadi asaran utama serangan Pramoedya Ananta Toer,Pengasuh Rubrik” Lentera” pada harian Bintang timur. Pram dengan lembaga kebudayaan rakyat (Lekra) sebuah organisasi bawahan (onderbouw) PKI, secara sistematis melancarkan serangana terhadap karya bahkan pribadi Hamka yang dicap sebagai plagiator dengan novel tenggelamnya kapal Van Der Wijk.

 

     “Pendeknya,novelis – ulama Buya Hamka,kritikus astra H>B>jassin, novelis-pemikir Sutan Takdir Alisjahbana, dan banyak lagi yang tidak sepaham dengan Lekra habis-habisan dibabat dengn bahasa yang tidak pantas,”kata Taufiq. Hubungan terburuk denagn Bung Karno di tandai dengan penangkapan Buya Hamka beberapa waktu menjelang pecahnya G-30-S/PKI.

 

     Buya dituduh berencana membunuh Bung Karno dan Syaifuddin Zuhri, menteri agama pada masa itu. Dengan keji pula, Buya di sebut-sebut menerima sejumlah besar uang dari pemimpin Malaysia, Tunku Abdul Rahman,untuk menjatuhkan Bung Karno.”Lalu Buya dijerat dengan pasal karet—Undang-undang anti- subversif Tahun 1962—dan di jebloskan ke penjara tanpa proses pengadilan,”Rusydi menimpali.

 

     Hmka sendiri tak habis pikir atas perubahan Bung Karno terhadap dirinya itu.Padahal,pada suatu masa, Soekarno pernah mengakui di depan khalayak bahwa hamka sudah seperti saudaranya sendiri. Dalam otobiografinya, Hamka menggambarkan kegundahannya ihwal perubahan sikap itu.”Persahabatan yang timbul di zaman bintang masih gelap,di tanah perasingan,jauh lebih murni dari pada persahabatan yang didapat setelah Presiden Soekarno duduk di istana Merdeka,” tulis dia,---

 

Berani bersikap dan berlapang dada.

 

     Sepanjang hayatnya,rupanya Buya Hamka kerap di baying-bayangi serangan dan gempuran orang lain.Ia juga pernah di cap sebagai kaki tangan Dai Nippon semasa tentara Jepang manancapkan Kukunya selama tiga setengah tahun di bumi Nusantara.”Itu tuduhan yang sangat tidak berdasar,” kata Syafii,sambil menegaskan bahwa Hamka jelas seorang pejuang tulen.

 

     Dalam otobiografinya,Hamka menggambarkan keadaan yang sesungguhnya yang ia hadapi di zaman Jepang.Di situ tampak betapa ia harus pandai-pandai bersikap untuk mempertahankan Eksistensi Muhammadiyah yang dipimpinnya di kawasan Sumatera timur agar terhindar dari kecurigaan Jepang.

 

     Bahkan Hamka mengakui,apabila keadaan memang memaksa,ia tak segan-segan mengambil peran sebagai utusan Jepang demi misinya memperkokoh kesatuan warga Muhammadiyah dengan kelompok lain di derah-daerah. Hamka mengungkapkan, betapa ia harus pula pandai-pandai menjaa keseimbangan dengan lembaga-lembaga lain agar tak berbenturan, Seperti yang di kehendaki Jepang

 

     Terutama pada saat bertentangan paham sengan beberapa sultan yan mengklaim sebagai pihak yang paling berhak mengelola urusan agama.Disitu pula tampak betapa cerdiknya Hamka memainkan peran sebagai pemimpin organisasi yan mulai besar itu.” Dihadapan kawan-kawan yang karib,seperti Yunan Nasution, dan Adinegoro,senantiasa saya nyatakan kalau dapat hendak menjauh dari Jepun,”tulis dia.

 

     Namun Buya Hamka tampaknya menerima berbagai serangan dan gempuran itu dengan  lapang dada. Ia ternyata bukan sosok pendendam dan sungguh berani mempertahankan sikapnya itu.Terbukti,Misalnya.Ketika proklamator itu wafat pada 21 juni 1970,Buya tetap menjadi imam shalat jenazah,Wlaupun hal itu ditentang keras dan di kecam habis oleh rekan sejawatnya.”Tak kurang dari Syafruddin Prawiranegara dan Mohammad Natsir mengecam dia,”ujar Syafii.Tapi Buya tetap jalan terus.

 

     Soal keberanian mengambil sikap berbeda tampak pada cerita lain.Suatu ketika tahun 1973, Ia tampil sebagai saksi ahli ketika H.B Jassin berurusan dengan pengadilan gara-gara menerbitkan cerita Langit makin mendung karya Ki Panjikusmin.Jassin dituntut karena sebagian khalayak pembaca memprotes keras kemunculan cerita yang mempersonalkan Tuhan itu,”Dengan lantang dan berani,Hamka hakim memaafkan Jassin dan membebaskannya dari hukuman,” Kata Darsjaf Rahman,Penulis biografi H.B Jassin,Antara Imaginasi dan hukum,suatu waktu,---

 

Menyentuh hati di Teater arena

 

     Sikap lapang dada tampak pada kata maaf yang dihadiahkannya kepada Pramoedya Ananta Toer  jauh-jauh hari orang mengetahuinya.Hal itu baru terungkap jelas setelah ia di undang Ceramah oleh dewan kesenian di Taman ISmail Marzuki(TIM),Jakarta pada 1969.

 

     Dalam acara diskusi,Buya Hamka ditanya tentang dua hal.Pertama, pendapatnya tentang pelarangan buku Pramoedya Ananta Toer oleh kejaksaan.Kedua, tentang sikapnya terhadap Pram yang menghancurkan nama baiknya dan berlanjut dengan fitnah politik yang memuat dia di jebloskan kedalam penjara selama lebih dari dua tahun tanpa proses pengadilan.

 

     Pada waktu itu Buya Hamka manjawab bahwa ia tidak setuju atas pelarangan buku Pram karena falsafah hidup dia adalah cinta,Janganlah buku itu yang dilarang,Tapi tandingi dengan Menulis buku pula.”Beliau malah menambahkan,Sudah memaafkan Pram,Yang telah menghancurkan nama baiknya dan ikut mendorong penangkapan serta penahanan dirinya,”Kata Taufiq Abdullah.

 

     Menurut Taufiq,Ketika itu,hadirin di Teater Arena TIM kontan terdiam hening mendengar keikhlasan yang memancar dari ucapan sastrawan dan ulama besar ini. Banyak yang menitikan air mata,termasuk novelis Iwan Simatupang.”Saya melihat ,itulah cahaya cemerlang Keikhlasan Buya Hamka yang selalu jadi panutan dan tempat saya bertanya,”kata Taufiq lagi.

 

     Buya Hmka lahir pada Ahad malam 17 Februari 1908,Dari pasangana Haji Abdul Karim Amrullah dan Siti Safiyah. Sang ayah terkenal sebagai salah seorang pembawa paham pembaharuan dalam Islam yang mengajatrkan keberanian dan kebebasan berpikir pada anaknya.Selain itu.Kultur di daerah kelahirannya ikut menempat kepiawaian Hamka yang terlahir dengan nama Abdul Malik itu.Di masa silam,warga Nagari sungai Batang memang terkenal cerdik dan jago berdebat, disamping Seperti umumnya orang minang yang kaya dengan petatah-petitih.

 

     Bukan itu saja.kegetiran demi kegetiran yang banyak mewarnai hidupnya sejak kecil,terutama setelah Ayah-Ibunya bercerai,Ikut membentuk kekuatan pribadinya sebagai bentuk protes atas kondisi orang tuanya,bocah bernama kecil Malik  itu cenderung tumbuh liar.Di usia 14 tahun,ia mengembara sampai ke bengkulu seorang diri.

 

     Di usia 19 tahun, berkat dukungan kawan-kawannya, ia nekad berangkat ke tanah suci unuk menunaikan ibadah Haji.Padahal,jumlah uang disakunya hanya pas untuk ongkos tiket kapal pulang dan pergi.Toh,ia kembali di Tanah Air setelah hampir setahun berada di Arab Saudi.”Ayahnya sampai menitikan airmata ketika tahu Buya Hamka Sudah Haji,”Ujar Rusydi.

 

     Dalam otobiografi yang banyak menyebut Bung Haji untuk dirinya sendiri itu—satu lagi,Hamka kerap menjadikan dirinya sebagai orang ketiga dalam riwyahnya—baru diketahui masalah yang di hadapi Ayahnya.Sang Ayah ternyata pernah bertekad memberangkatkan Hamka ke Tanah Suci setelah berusia 10 tahun—tekad yang tak kesampaian karena Hubungan yang merenggang dengan si anak.Inagatan akan tekad itulah,di samping kekerasan hati Hamka,yang membuatnya terharu,lalu menitikn airmata,---

 

Sosok yang langka

 

     Buya Hamka,boleh jadi,memang terlahir sebagai tokoh dan sosok yang langka.Entah asa hubungannya atau tidak,Rusydi menutur sebuah pengalaman dimasa silam.Suatu kali,di masa kependudukan,seorang serdadu Jepang yang kerap berhubungan dengan Ayahnya dating bertamu.

 

     Serdadu bernama Nomura itu sekilas melihat telapak tangan Buya dan tampak tersentak.Dengan sopan,Ia minta Buya memperlihatkan kedua telapak tangannya.”Wah,dalam seratus tahun hanya da satu yang seprti ini,”komentar dia,seperti ditirukan Rusydi.

 

     Ternyata retak tangan Di kedua telapak tangan Buya Hamka benar-benara Unik. Terdapat garis yang memotong dari pangkal telapak tangan hingga ke ujung jari tengahnya.apakah itu pertanda atau bukan,yang jelas belum ada tokoh yang muncul sebagai pengganti Hamka hingga detik ini.”Lepas dari cerita itu,Faktanya memang sulit mencari pengganti beliau.Buya Hamka itu manusia yang sungguh-sungguh langka,” kata Syafii Maarif.

 

     Walau demikian,Syafii agak menyayangkan bahwa disaat akhir hayatnya,Buya seperti mengubur kepercayaannya sendiri tentang keBhinekaan dan toleransi.Itu berkaitan dengan fatwa yang dikeluarkannya sebagai ketua Majelis Ulama Indonesia pada 1980-an yang melarang umat Islam ikut merayakan Natal bersama umat Kristiani.

 

     Gesekan yang muncul dengan pemerintah yang menginginkan fatwa itu di cabut mendorong Hamka mengundurkan diri dari jabatannya itu.Walau disatu pihak memang ada benarnya untuk menjaga akidah umat islam,Di lain pihak tentu ada formulasi yang lebih lentur bagi umat,”saya rasa, kalau masih di beri umur panjang,beliau akan bersedia menoreksinya asalkan dengan alasan yang dapatbeliau terima.Beliau orang yang sangat berperasaan dan toleran,”ujar Syafii. (NchiedIVe,---)

Tuh kan insyaAllah bener apa yang aku kuatirin dari orang-orang gerombolan JIL seperti Syafii Maarif...!!? Mau itu dari KBR68H kek, Libforall kek, atau media mereka lainnya seperti Detik.com sama saja...!!! Silakan Anda buktikan sendiri lewat "artikel fitnah" mereka kepada Buya HAMKA seperti di alamat berikut ini :

http://www.detiknews.com/indexfr.php?url=http://www.detiknews.com/index.php/detik.read/tahun/2008/bulan/04/tgl/10/time/130254/idnews/921380/idkanal/10

Atau komentar2 tidak lucu dari orang-orang tanggung yang sepertinya ingin mengikuti jejak orang-orang plural serta sekular dari JIL ( Laringan Iblis LaknatuLlah )...

http://jazzterday.multiply.com/journal/item/861/

*Muslim Minang
Join this Group!RSS FeedHelp on RSS FeedsAdd to My Yahoo
Report Abuse
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help