Blog EntryMuseum Buya HAMKAApr 12, '08 12:02 AM
by *Nchie for everyone
Museum Buya Minim Promosi

 


Setelah enam tahun berdiri, tak banyak anak negerei yang datang ke museum Buya Hamka. Promosi dan informasi tentang meseum ini sangat kurang.

 

     Di tepi Danau Maninjau, Di suatu kampung bernama Tanah Sirah, dalam Nagari Sungai Batang, di situlah rumah orangtuaku. Aku masih teringat sebuah rumah atap ijuk bergonjong empat, menghadap ke Danau, membelakang ke timur. Halamannya tidak luas, sebab rumah itu di lereng bukit. Dipinggir halaman, ditanam Anduang (nenek) bungaraya putih, yang senantiasa dipangkas agar mudah bagi ibuku menjemur kain.

     Begitulah Hamka mengawali kisah hidup yang tertuang dalam otobiografi berjudul kenang-kenangan hidup.  Secara umum, gambaran seperti dituturkan Buya ini tak banyak berubah. Ditempat ini masih tegak rumah bergonjong—sebutan rumah adat Minangkabau—dengan empat tanduk. Letak, masih dilereng bukit, menghadap Danau Maninjau nan permai. Halamannya tak luas-luas benar, yang masih juga dihias bunga-bungaan.

 

     Cuma, ada sejumlah detail yang kini--100 tahun kemudian—jauh berbeda. Rumah itu bukan lagi rumah tua karena sudah di renovasi total dengan tetap mempertahankan model aslinya. Atapnya tak lagi terbuat dari ijuk, melainkan bersalut atap modern. Kini halamannya pun ditutupi rerumputan dan dihiasin bunga aneka warna yang terawat baik. Untuk sampai kerumah itu, pengunjung meski melewati mendaki jenjang semen berbentuk huruf U setinggi kira-kira empat meter. Yang paling berbeda, rumah itu bukan lagi rumah tinggal. Banguanan itu sudah menjadi Museum rumah kelahiran Buya Hamka.

 

     Museum ini sudah berjalan enam tahun,”ujar Hanif Rasyid, pengelola sekaligus penanggung jawab museum itu. Ia menuturkan, Bangunan ini diresmikan pada 11 November 2001 oleh H. Zainal Bakar, gubernur Sumatera Barat masa itu. Adalah Zainal Bakar pula yang sedari awal menggagas pembangunan Buya Hamka.Tak mengherankan pula pada saat itu pemerintah Sumatera Barat menyisihkan Rp 500 juta dari APBD untuk membiayai pembangunan kembali Rumah Hamka itu.

 

     Selain itu, menurut Hanif, ada juga sumbangan lagi yang berasal dari Pribad-pribadi. Tanpa mengatakan jumlahnya, Hanif menyebut nama tokoh ABIM, Angkatan Belia Islam Malaysia, Bernama Datuk Hakim sebagai Donatur perorangan, Disamping beberapa pengusaha asal Sumatera Barat.

 

     “dengan Sumbangan-Sumbangan itu, Pembangunan museum ini selesai dalam waktu 11 bulan,” katanya.

 

     Naik kehalaman Museum, di tepi sebelah utara berdiri sebuah Musholah. Di dalam museum itu tersimpaan berbagai peninggalan Buya Hamka. Ada ruang tidur yang berisi ranjang bersalut kelambu yang dulu sempat menjadi tempat tidur sang Buya. Di sudut ruangan lainnyatampak pula beraneka barang, seperti sebilah tongkat yang dalam rak tersendiri,dua kursi rotan, juag ada lemari kaca berisi jubah dan juga aksesoris lain yang biasa dikenakan Buya. Di semua dinding banyak tergantung foto Buya.”Benda benda peninggalan ini sumbangan dari berbagai pihak, terutama dari keluarga Buya Hamka,” kata Hanif lagi.


    







Ada pula ruang khusus untuk menerima tamu yang dilengapi kursi terukir.
Disebelah ruang tanu, tersususn lima rak buku kaca tempat menyimpan buku-buku koleksi museum yang jumlahnya sekitar 200 judul.” Sayang, dari sekitar 118 karya Buya, yang tersimpan disini hanya 28 judul,” ujar Hanif. Ia menambahkan, semua buku itu pun bukan berupa terbitan pertama karya Hamka.

 

     Ihwal koleksi buku ini, ada cerita cukup menyedihkan diungkap Rusydi HAmka, anak kedua Buya. Dalam suatu masa, keluarga Hamka menitipkan seluruh pembendaharaan  buku Buya Hamka di kantor pengurus pusat Muhammadiyah di Jakarta. Lalu, tak lama setelah museum Hamka berdiri, seluruh buku itu rencananya disimpan di sana, Tragisnya, semua buku yang di ambil dari kantor Muhammadiyah itu hilang ditengah jalan setelah di kirim ke Sumatera Barat.

 

     “Ini tragis sekali. Tak ada yang mengaku bertanggung jawab atas kehilangan itu. Dua peti penuh buku, ratusan judul, yang saya alamatkan ke seorang pengusaha disana lenyap begitu saja di tengah jalan,” kata Rusydi dengan nada sedih. Ia menambahkan,padahal sebagian besar adalah   buku klasik berbahasa Arab yang langka milik Buya, termasuk seluruh karya Buya sendiri. Sedangkan yang ada di museum itu kini seluruhnya koleksi Rusydi.

 

     Soal kepengurusan museum itu, menurut Rusydi, memang diserahkan kepada keluarga dari suku asli marga Ayahnya, Tanjuang. Rusydi sendiri bersama seluruh anak Hamka bersuku Guci, mengikuti suku ibunya. Sesuai dengan adat Minang, rumah itu berdiri di atas tanah suku Tanjuang. Jadi, pengelolaannya menjadi hak suku Tanjuang

dan Hanif-lah yang dipercayai untuk itu. Sedang kan kami (anak-anak Buya Hamka) sekadar mengisi koleksinya, Ujar Rusydi lagi.

 

     Soal pemeliharaan museum selama ini, Rusydi mengaku tak banyak tahu. Tapi,menurut Hanif, Dinas pariwisata, seni, dan budaya kabupaten Agam ikut berperan dalam pemeliharaannya. “Kami mendapat bantuan dari lembaga itu, di samping juga bantuan pribadi dari orang-orang yang dating kesini,” katanya tanpa merinci bentuk dan jumlah bantuan itu.

 

     Ketika GATRA singgah ke Museum itu, hanya tampak beberapa pengunjung -- bisa dihitung dengan jari sebelah tangan. Menurut Hanif, di akhir pekan atau hari libur, cukup banyak orang yang mengunjungi miseum ini. Tragisnya, kebanyakan mereka bukan orang Indonesia, melainkan warga Malaysia, Singapura, atau Brunei Darussalam. “Biasanya warga Malaysia yang datang ke sini sampai menggunakan dua-tiga bus penuh,” ujar Hanif.

 

     Sayang, memang, bila museum ini ternyata tak begitu menarik hati masyarakat Indonesia. Atau barangkali memang kurangnya promosi tentang keberadaan museum itu sendiri, seperti juga kesan kurangnya promosi dan informasi tentang daerah wisata di Sumatera Barat. ”Terus terang saya baru sekali ini datang melihat karena baru tahu ada museum Hamka di sini,” ujar Desnawati, Seorang warga Bukittinggi yang singgah pada hari itu.

 

     Kurangnya promosi dan sebaran informasi tentang museum boleh jadi itulah soalnya. Disamping memang karena, ternyata, nama Buya Hamka justru sangat popular dimata warga negeri Jiran. Tak seperti di banyak negeri lain, begitu kita menjejakkan kaki di pintu keluar Bandar udara tersedia beragam informasi  tempat wisata dan museum, di Bandar udara Internasional Minangkabau tak sehelai pun informasi serupa kita dapati. Itulah, barangkali, satu hal yang paling penting dibenahi, apalagi dalam upaya menggalakkan sector pariwisata lewat program VISIT INDONESIA Year 2008.

 

Yang Baru dan Terkunci Selalu.

 

Siapa nyana, Di wilayah pedalaman kota kecamatan Gunuang Ameh Kabupaten Limo Puluah Kota, kini berdiri museum baru. Namanya, Museum dan pustaka Rumah Tan Malaka. Lokasinya berada di kampung bernama Pandam Gadang, Museun ini agak masuk kedalam sekitar 300 meter dari jalan raya. “ Museum ini baru di resmikan pada 21 februari lalu, Jadi baru sebulan berjalan,” kata Indra Ibnur Ekatama, Pengelola museum itu.

 

     Bangunan Museum ini jauh lebih sederhana di bandingkan dengan Museum Hamka. Bagian depannya tertutup dinding dan jendela dari papan, sedangkan sisi lainnya bersalutkan anyaman bambu pada bagian sisi luar dilapisi papan pada bagian dalam. Persamaan, seluruh koleksi yang berkenaan dengan Tan Malaka berada di dalam rumah bergonjong lima—sesuai dengan jumlah anggota keluarga penghuni rumah.

 

     Perbendaharaan di dalamnya belum banyak benar. Hanya ada beberapa puluh judul buku yang tersimpan dalam empat rak kaca sederhana. Berbagai foto kenangan tentang Tan Malaka bergelantung di dinding-dindingnya, termasuk foto keluarga yang masih ada hubungan darah dengan pendiri partai Murba itu. Ada juga ranjang besi dan meja kursi yang dahulu biasa di pakai Tan Malaka.

 

     Yang unik, Dalam lemari yang berisi aksesoris tokoh pejuang kelahiran 1897 yang wafat pada 1949 itu tampak tumpukan piringan hitan kuno berisi lagu-lagi klasik. Piringan hitan itu hanya bisa diputar dengan gramofon. Sebuah kitab Al-Qur’an tua pun tergeletak di rak bagian atas lemari itu, bersebelahan dengan topi dan selimut peninggalan Tan Malaka.

 

     Indra menuturkan, gagasan tentang pembuatan museum itu berasal dari kemenakan Tan Malaka yang tinggal di Jakarta. Namanya, Hengky Novaron, yang kini menduduki posisi Datuak dalam keluarga besar Tan Malaka. Gagasan itu segera pula didukung anggota keluarga lain.

 

     Demikian pula, Sambutan positif di berikan penulis biografi Tan Malaka, Harry A.Poeze. Indra tak tahu persis berapa dana untuk merenovasi rumah yang di jadikan museum ini. ”Yang jelas, dari dana yang terkumpul, renovasi rumah di lakukan dan beginilah jadinya,” kata kemenakan Tan Malaka itu sambil menambahkan, Hingga kini belum ada bantuan dari pemerintah daerah setempat untuk perbaikan dan pemeliharaannya.

 

     Selain itu, Indra menjelaskan, rumah yang jadi museum itu bukanlah tempat kediaman asli Tan Malaka. Itu rumah leluhurnya yang dibangun sekitar tahun 1936. ”Rumah asli beliau telah runtuh dan lokasinya ada di sana,” ujar dia sambil menunjuk sepetak sawah tak jauh dari museum. Dan, dalam sebulan ini, baru tercatat beberapa puluh pengunjung yang datan ke museum ini, sebagian besar pelajar di sekitar kabupaten Lima Puluh Kota.

 

     Lain lagi halnya dengan Museum Bung Hatta di tengah kota Bukiktinggi. Model bangunannya lebih Modern dibandingkan dengan Museum Buya Hamka dan Museum Tan Malaka. Baik rumahnya maupun halamannya juga tampak terpelihara baik. Sayang, sampai tiga kali GATRA singgah kesana , pagar halaman museum itu selalu terkunci seperti tak ada orang yang menungguinya.

 

     Pada plang yang tergantung dipagar lantai atas rumah itu bertulis dengan huruf besar: Pemerintah Kota Bukiktinggi, Rumah kelahiran Bung Hatta,Proklamator RI, jl. Soekarno-Hatta No.37 Bukiktinggi. Tak ada orang yang bisa di korek informasinya tentang museum ini disana. Seorang juru parker pun berkomentar, ”Pagar ini selalu terkunci, Pak.”

 

     Sayang, padahal ini hari libur, ketika banyak wisatawan lokal singgah ke kota dingin itu. Mereka hanya memadati lokasi yang tak jauh dari museum itu: Jam Gadang, Ngarai Sianok, Gua Japang, Dan tempat-tempat belanja, tentunya…


Komentar Nchie…

 

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memudahkan langkah perjuangan Ayah nchie (Uda M. Dive Novio) dalam membantu radio2 di Sumbar untuk memerangi berbagai penyesatan yang dikreasikan oleh pihak JIL, disamping membangun pendidikan khusus Broadcast disana.

Lalu berkaitan dengan semua itu, insyaAllah tentunya dapat pula di sertai dengan membangun komunikasi mengenai pariwisata di Sumatera Barat, amiin yaa Allahumma aamiin…

 
Wassalam,

NchiedIVe,---


Add a Comment
   
*Muslim Minang
Join this Group!RSS FeedHelp on RSS FeedsAdd to My Yahoo
Report Abuse
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help