Join MultiplyOpen a Free ShopSign InHelp
MultiplyLogo
SEARCH
Blog EntryOct 18, '08 2:25 AM
by Nchie for everyone

MasyaAllaah...
Setiap kali kubaca tulisan ini,
maka kali itu pula-lah air mata ini membasahi pipi...

Muhammad kekasih kami yaa Rasul Allah,
betapa kami rindu dan begitu mencintaimu...
Allahumma sholli ‘ala Muhammad wa baarik wa salim ‘alaihi.

...............................

Wassalamu'alaikum wr.wb.
Karina Dive,---



Detik-detik Sakaratul Maut Rasulullah SAW




Inilah bukti cinta yang sebenar-benarnya tentang cinta, yang telah dicontohkan Allah SWT melalui kehidupan Rasul-Nya. Pagi itu, meski langit mulai menguning di ufuk timur, burung-burung gurun enggan mengepakkan sayapnya.

Rasulullah dengan suara lemah memberikan kutbah terakhirnya, “Wahai umatku, kita semua ada dalam kekuasaan Allah dan cinta kasih-Nya. Maka taati dan bertakwalah kepada-Nya. Kuwariskan dua perkara pada kalian, al-Qur’an dan sunnahku. Barang siapa mencintai sunnahku, bererti mencintai aku dan kelak orang-orang yang mencintaiku, akan masuk syurga bersama-sama aku.”

Khutbah singkat itu diakhiri dengan pandangan mata Rasul yang tenang menatap sahabatnya satu persatu. Abu Bakar menatap mata itu dengan berkaca-kaca, Umar dadanya naik turun menahan nafas dan tangisnya.Usman menghela nafas panjang dan Ali menundukkan kepalanya dalam-dalam. “Isyarat itu telah datang, saatnya sudah tiba. Rasulullah akan meninggalkan kita semua,” keluh hati semua sahabat kala itu.

Manusia tercinta itu, hampir selesai menunaikan tugasnya di dunia. Tanda-tanda itu semakin kuat, tatkala Ali dan Fadhal dengan cergas menangkap Rasulullah yang berkeadaan lemah dan goyah ketika turun dari mimbar. Di saat itu, kalau mampu, seluruh sahabat yang hadir di sana pasti akan menahan detik-detik berlalu. Matahari kian tinggi, tapi pintu rumah Rasulullah masih tertutup. Sedang di dalamnya, Rasulullah sedang terbaring lemah dengan keningnya yang berkeringat dan membasahi pelepah kurma yang menjadi alas tidurnya.

Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang yang berseru mengucapkan salam.

“Bolehkah saya masuk?” tanyanya. Tapi Fatimah tidak mengizinkannya masuk.

“Maafkanlah, ayahku sedang demam,” kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup pintu.

Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya pada Fatimah.

“Siapakah itu wahai anakku?”
“Tak tahulah ayahku, orang sepertinya baru sekali ini aku melihatnya,” tutur Fatimah lembut.

Lalu, Rasulullah menatap puterinya itu dengan pandangan yang menggetarkan. Seolah-olah bahagian demi bahagian wajah anaknya itu hendak dikenang.

“Ketahuilah, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia. Dialah malakul maut,” kata Rasulullah.

Fatimah menahan ledakkan tangisnya.

Malaikat maut telah datang menghampiri. Rasulullah pun menanyakan kenapa Jibril tidak menyertainya. Kemudian dipanggilah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap di atas langit dunia menyambut ruh kekasih Allah dan penghulu dunia ini.

“Jibril, jelaskan apa hakku nanti di hadapan Allah?” tanya Rasululllah dengan suara yang amat lemah.

“Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti ruhmu. Semua syurga terbuka lebar menanti kedatanganmu,” kata Jibril.

Tapi, semua penjelasan Jibril itu tidak membuat Rasul lega, matanya masih penuh kecemasan dan tanda tanya.

“Engkau tidak senang mendengar kabar ini?” tanya Jibril lagi.

“Kabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak, sepeninggalanku?”

“Jangan khawatir, wahai Rasul Allah, aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku: ‘Kuharamkan syurga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada di dalamnya,” kata Jibril meyakinkan.

Detik-detik kian dekat, saatnya Izrail melakukan tugas. Perlahan-lahan ruh Rasulullah ditarik. Nampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang.

“Jibril, betapa sakitnya, sakaratul maut ini.” Perlahan terdengar desisan suara Rasulullah mengaduh.

Fatimah hanya mampu memejamkan matanya. Sementara Ali yang duduk di sampingnya hanya menundukan kepalanya semakin dalam. Jibril pun memalingkan muka.

“Jijikkah engkau melihatku, hingga engkau palingkan wajahmu Jibril?” tanya Rasulullah pada Malaikat pengantar wahyu itu.

“Siapakah yang sanggup, melihat kekasih Allah direnggut ajal,” kata Jibril sambil terus berpaling.

Sedetik kemudian terdengar Rasulullah memekik kerana sakit yang tidak tertahankan lagi.

“Ya Allah, dahsyat sekali maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku,” pinta Rasul pada Allah.

Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tidak bergerak lagi. Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu. Ali pun segera mendekatkan telinganya.

“Uushiikum bis shalati, wa maa malakat aimanuku, peliharalah shalat dan peliharalah orang-orang lemah di antaramu.”

Di luar pintu tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan. Fatimah menutupkan tangan di wajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan.

“Ummatii, ummatii, ummatiii?” Dan, berakhirlah hidup manusia mulia yang memberi sinaran kemuliaan itu. Kini, mampukah kita mencintai sepertinya? Allahumma sholli ‘ala Muhammad wa baarik wa salim ‘alaihi. Betapa cintanya Rasulullah kepada kita.

Kirimkan kepada sahabat-sahabat muslim lainnya agar timbul kesadaran untuk mencintai Allah dan RasulNya. Seperti Allah dan Rasul mencintai kita semua.
..

rizkyp13 wrote on Oct 18, '08
Subhanallah....Allahu akbar, baru kali ini saya merinding saat membaca sakratul mautnya rasulullah saw..., Ya Allah, apakah kita juga akan mendapatkan sakratul maut semudah rasul yg juga merasakan "sakit" saat ajal menjemput ? Trims atas pencerahannya
nchiedive wrote on Oct 18, '08
Subhanallah....Allahu akbar, baru kali ini saya merinding saat membaca sakratul mautnya rasulullah saw..., Ya Allah, apakah kita juga akan mendapatkan sakratul maut semudah rasul yg juga merasakan "sakit" saat ajal menjemput ? Trims atas pencerahannya
Laa haula wa laa quwwatta illah billah...

Marilah kita bermohon kepada Allah ta'ala yaa saudaraku, semoga Allah memudahkannya ketika saat itu tiba, dan kita pun ditempatkan-Nya bersama kekasih setiap mu'min di Surga-Nya kelak, insyaAllah, amin Allahumma amiin...

Jazaakallaah yaa saudaraku,
Wassalam.
mawarni1329 wrote on Oct 18, '08
Terimakasih ya mbak karina yg udah posting ini
akan selalu meningtakan kan akan kematian yag tak pernah kita tau kapan akan memjemput
moga kita mendapat hunnul khotimah di saat ajal menjemput

mbak postingan nya aku copy ke http://www.lautanindonesia.com/forum/index.php/topic,1492.6970.html
biar lebih banyak yg baca
nchiedive wrote on Oct 18, '08
mbak postingan nya aku copy ke http://www.lautanindonesia.com/forum/index.php/topic,1492.6970.html
biar lebih banyak yg baca
MasyaAllah...

Tentu saja mbak Mawarni,
alhamdulillah, silakan dengan senang hati...

Wassalam.
tascamp wrote on Oct 23, '08
Assalamuallaikum....Mbak Karina yang baik.... saya sudah pernah membaca hal ini dari postingan teman lain....memang betul...seribu kalipun membaca air mata akan selalu ada.....betapa yang dipikirkan Rasul bukan kenikmatan surga ataupun yang lainnya tapi .... “Uushiikum bis shalati, wa maa malakat aimanuku, peliharalah shalat dan peliharalah orang-orang lemah di antaramu.”...dan yang membuat menangis beliau masih bertanya..... “Ummatii, ummatii, ummatiii?”...ya ALLAH mampukah kita nanti seperti beliau...dan dapat berjumpa di surga ?
nchiedive wrote on Oct 24, '08
Wa'alaikumsalam mas Didi yang baik...
InsyaAllah mas, semoga kita semua umat beliau dapat berkumpul di Surga-Nya kelak, amin Allahumma amiin...
Add a Comment
   
Buy@dIVe~ dRadio-man Broadcaster Minang
Join this Group!Add to My Yahoo
Report Abuse

Success is Syari'at Islam, Not The Others ! Ud@dIVe~ dRadio-man